Dalam upaya mengatur jumlah uang beredar, bank sentral umumnya menggunakan beberapa instrument kebijakan moneter yang dapat digolongkan kedalam dua jenis instrument yaitu:
1.Instrumen kebijakan moneter langsung (direct monetary policy instruments)
2.Instrumen kebijakan moneter tidak langsung (indirect monetary policy instruments)
Instrument pengendalian moneter yang dapat secara langsung mempengaruhi sasaran operasional yang diinginkan oleh bank sentral. Sasaran operasional yang dimaksud adalah target monetary base yaitu uang primer dan reserve bank.  Pengendalian moneter yang dilakukan secara langsung tersebut memiliki kemampuan yang langsung mempengaruhi neraca bank-bank umum.
Instrument kebijakan moneter langsung yang biasa digunakan oleh bank sentral atau otoritas moneter terutama di negara-negara berkembang antara lain sebagai berikut:
1. Credit Ceiling / Pagu Kredit
nCredit Ceiling : penentuan jumlah batas maksimal kredit yang diperbolehkan untuk disalurkan oleh masing-masing bank yang ditetapkan oleh bank sentral.
nPenentuan jumlah pagu kredit yang dapat disalurkan setiap bank antara lain dapat ditetapkan berdasarkan jumlah modal yang dimiliki oleh bank atau dikaitkan dengan jumlah dana pihak ketiga yang dikelola.
nKebijakan pagu kredit ini diadopsi oleh Bank Indonesia sebagai instrument pengendalian langsung sampai era deregulasi atau kebijakan moneter dan perbankan 1 Juni 1983. Instrumen ini dapat dikatakan cukup efektif menekan laju kenaikan harga (inflasi) pasa saat itu, namun dari sisi lain instrument tersebut sangat tidak efektif dan bahkan menjadi disinsentif bagi perbankan dalam upaya mobilisasi dana masyarakat. Disamping itu, instrument ini dapat menyebabkan terjadinya distorsi sumber-sumber daya karena adanya kecenderungan bank-bank mengalami ekses likuiditas akibat fungsi intermediasi tidak dapat dilakukan secara optimal.
2.Penetapan Tingkat Bunga
Bank sentral dalam melaksanakan pengendalian moneter langsung dengan menetapkan tingkat bunga (interest rate ceiling), dilakukan dengan menentukan besarnya tingkat bunga yang diberikan atau dikenakan olen bank kepada nasabahnya, baik nasabah deposan atau penabung maupun nasabah debiturnya.
Penetapan tingkat bunga simpanan dengan tingkat buunga pinjaman (kredit) seringkali sangat kecil sehingga spread (selisih antara biaya dana atau cost of funds dengan bunga kredit) bank kemungkinan bisa menjadi negative.
Penggunaan instrument kebijakan moneter dewasa ini tidak begitu efektif mengingat produk-produk bank semakin bervariasi. Disamping semakin pesatnya perkembangan instrument financial dan terintegrasinya pasar keuangan dunia sebagai konsekuensi dari perekonomian global.
3. Penurunan Nilai Uang
Salah satu kebijakan pengendalian moneter yang berdampak langsung terhadap pengurangan jumlah uang beredar adalah dengan menurunkan nilai uang yang ada ditangan masyarakat atau di perbankan.
Nilai penurunan uang biasanya dilakukan dengan persentase tertentu, misalnya 25% atau 50% dari nilai nominal uang, tergantung kebijakan pemerintah atau bank sentral.
Pengurangan nilai mata uang ini pernah dilakukan saat tahun 1965, pemerintah melakukan penurunan nilai Rupiah dari Rp 1000,- menjadi hanya Rp 1,-. Penurunan nilai uang tersebut bisa saja mendapatkan penggantian dari pemerintah, namun bisa saja tidak. Kalau pemerintah memberikan penggantian biasanya jumlah penurunan nilai uang ditukar dengan Surat Utang Negara.
4. Kredit Langsung (direct loan)
Kredit langsung ini dimaksudkan untuk membantu pembiayaan sektor-sektor usaha tertentu yang merupakan sector yang diprioritaskan untuk dikembangkan dan telah deprogram oleh pemerintah.
Kredit ini disalurkan langsung oleh pemerintah melalui lembaga keuangan (perbankan) sebagai agennya. Oleh karena itu, kredit ini sering juga disebut sebagai kredit program.
Pemerintah telah banyak menyalurkan kredit langsung ini pada tahun 1980-an untuk memacu perkembangan sector usaha kecil menengah, yaitu kredit modal kerja permanen dan kredit investasi kecil. Pada akhir decade 1990-an, pemerintah menyalurkan kredit langsung dalam bentuk dana bergulir yang diberikan kepada sektor UKM.
Instrument Kebijakan Moneter
Tidak Langsung
Instrument pengendalian moneter yang secara tidak langsung mempengaruhi sasaran operasional kearah yang ditargetkan oleh bank sentral sebagai otoritas moneter.
Instrument tidak langsung yang digunakan bank sentral dalam rangka mengendalikan variable moneter antara lain sebagai berikut:
1. Likuiditas Wajib Minimum (Statutory Reserve Requirements)
Likuiditas wajib minimum adalah ketentuan yang mewajibkan setiap bank memelihara sejumlah minimum alat likuid yang dinyatakan dalam persentase tertentu dari jumlah dana pihak ketiga yang dihimpun atau kewajiban lancar bank.
Likuiditas wajib atau disebut juga cadangan wajib minimum ini seringkali dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu cadangan primer (primary reserves) dan cadangan sekunder (secondary reserves). Bank sentral dapat saja mewajibkan setiap bank memelihara kedua jenis cadangan tersebut bergantung pada kebijakan moneter yang dijalankan di Negara bersangkutan. Namun telah menjadi strategi atau kebijakan dalam manajemen likuiditas bank, meskipun bank tidak diwajibkan memelihara cadangan sekunder, bank biasanya tetap memiliki sejumlah cadangan selain cadangan primer untuk menjaga apabila cadangan primer bank tidak mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan likuiditas bank dalam operasinya sehari-hari.
Cadangan primer yang dipelihara dalam bentuk Giro pada bank sentral umumnya tidak mendapat jasa giro atau bunga. Namun untuk pertimbangan tertentu bank sentral dapat memberikan jasa giro dari kelebihan saldo likuiditas wajib minimum.
Dan cadangan sekunder dimaksudkan sebagai back up apabila cadangan primer tidak mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan likuiditas atau penarikan yang dilakukan oleh nasabah, baik melalui kliring maupun penarikansecara tunai. Cadangan sekunder ini biasanya dalam bentuk sekuritas atau surat-surat berharga yang sangat likuid dan berkualitas tinggi, mudah diaungkan dan memiliki risiko rendah, misalnya Sertifikat Bank Indonesia dan Surat Perbendaharaan Negara (Treasury Bills).
2. Fasilitas Diskonto (discount facility)
Bank sentral dalam melakukan pengendalian moneter dapat menggunakan fasilitas diskonto yaitu fasilitas yang diberikan kepada perbankan dalam bentuk pinjaman dengan menggunakan surat-surat berharga yang dimiliki sebagai jaminan. Tingkat diskonto (discount rate) untuk fasilitas pinjaman ini sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter. Tingkat diskonto yang dikenakan oleh bank sentral ini akan menjadi benchmark (patokan) tingkat bunga kredit perbankan.
3. Operasi Pasar Terbuka (open market operation)
Dalam rangka mendukung tujuan Bank Indonesia, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai Rupiah, Bank Indonesia melaksanakan Operasi Pasar Terbuka.
OPT bertujuan mencapai target operasional kebijakan moneter dalam rangka mendukung pencapaian sasaran akhir kebijakan moneter Bank Indonesia. Target operasional kebijakan moneter dimaksud dapat berupa target kuantitas uang primer atau komponennya, atau target suku bunga pasar jangka pendek.
Pencapaian target operasional kebijakan moneter dilakukan dengan cara mempengaruhi likuiditas perbankan melalui kontraksi moneter atau ekspansii moneter.
4. Fasilitas Simpanan Bank Indonesia
Disamping SBI sebagai instrument OPT dalam rangka kontraksi seperti dijelaskan diatas Bank Indonesia juga menggunakan instrument pengendalian moneter lain yang berdampak kontraktif yang dikenal dengan fasilitas Simpanan Bank Indonesia (FASBI), yaitu fasilitas yang waktu FASBI maksimal 7 hari ditransaksikan dengan system diskonto. Suku bunga (discount rate) FASBI lebih rendah dari tingkat bunga SBI atau pasar. Berbeda dengan SBI, FASBI bukanlah instrument pasar uang sehingga tidak dapat diperdagangkan atau diagunkan dan tidak dapat dicairkan sebelum jatuh waktu temponya.
5. Fasilitas Diskonto Ulang (Rediscount Facility)
Fasilitas pendanaan yang disediakan oleh Bank Indonesia bagi bank yang membutuhkan dana dengan cara mendiskonto ulang surat-surat berharga yang dimilikinya.
Mekanisme fasilitas diskonto ulang ini pada dasarnya kurang lebih sama dengan fasilitas diskonto yang telah dijelaskan diatas, namun perbedaannya adalah instrument surat-surat berharga yang digunakan dalam rangka mendapatkan fasilitas rediskonto bukan surat berharga yang diterbitkan baik oleh bank sentral maupun surat utang pemerintah, melainkan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) berupa wesel dan promes yang diterbitkan oleh perbankan maupun oleh nasabah bank.
6. Persuasi Moral (Moral Suasion)
Cara kerja instrument ini pada dasarnya adalah Bank Indonesia memberikan himbauan kepada bank-bank, biasanya terutama kepada bank-bank utama saja (leading banks), agar himbauan atau permintaan Bank Indonesia sesuai dengan kebijakan moneter yang dijalankannya.
Biasanya dalam hal Bank Indonesia akan menambah jumlah uang beredar, bank-bank diminta untuk menurunkan tingkat bunganya dan mulai menyalurkan kreditnya kepada sector riil. Dengan himbauan tersebut bank-bank secara moral bersedia mengikutinya dalam rangka mendorong kegiatan sector produksi guna mencapai pertumbuhan ekonomi.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s